Sabtu, 2009 Juli 18

Bom JW Marriot dan Ritz Carlton : BOM Lagi – Duh Bom Lagi

Kemarin sekitar pukul 7.40 WIB, bom kembali meledak di Jakarta. Serangan bom terjadi di dua hotel berbintang di Jakarta yaitu hotel JW Marriotz dan hotel Ritz Carlton. Berita terakhir dari stasiun-stasiun televisi, korban tewas setidaknya delapan atau sembilan orang, sedangkan sekitar lima puluh orang terluka. Selain efek langsungnya, dampak lanjutannya : warga Negara asing mempercepat waktu kunjungannya di Indonesia, terjadi penumpukan warga asing di bandara, serta klub sepakbola Inggris MU yang rencananya dalam waktu dekat dijadwalkan berkunjung ke Indonesia , membatalkan kunjungan mereka karena alasan keselamatan.

Presiden kita tercinta Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus capres terpilih 2009 versi Quick Count mengutuk keras peristiwa tersebut. Yang lumayan mengejutkan - SBY mengaitkan peristiwa pemboman tersebut dengan data intelejen lain yang dia terima : Upaya pendudukan paksa KPU , revolusi jika SBY menang, upaya membuat Indonesia seperti Iran yang saat ini rusuh setelah pemilu, upaya menggagalkan Pelantikan SBY, dsb – yang arahnya “menyentil” pasangan capres dan cawapres yang lain. Pasangan Mega-Prabowo yang merasa terganggu dengan pernyataan SBY tersebut kemudian gantian memberikan pernyataan yang intinya menuduh SBY telah mempolitisasi peristiwa pengeboman untuk menyerang pasangan capres/cawapres lain.

Kita sendiri tentu tidak tahu apakah memang peristiwa pengeboman kali ini ada kaitan sistemis dengan upaya pihak lain menjegal SBY, atau sesuatu yang parallel masing-masing sebenarnya berdiri sendiri. Artinya pengeboman Jakarta adalah satu kasus , upaya menggagalkan pelantikan SBY adalah peristiwa lain lagi.

Terlepas dari apakah memang ada hubungan antara Pemilu dan BOM di Jakarta, karena pernyataan SBY disampaikan pada moment paska pengeboman dan disampaikan pada satu waktu yang sama, seolah ini mengesankan kalau SBY menganggap dua peristiwa tersebut berkaitan. Sisi baik pernyataan SBY tersebut bagi SBY dan KPU, ini akan menjadi semacam tekanan bagi capres/cawapres lain yang ingin memprotes hasil Pemilu, yang ingin demo dan sebagainya. Karena masyarakat akan mengaitkan mereka dengan bom dan menjadi antipati. Upaya menggagalkan hasil Pemilu ( andaikata upaya itu sungguh ada) menjadi mentah karena diumumkan secara terbuka. Ini bisa juga dinilai sisi baik bagi rakyat. Hanya saja karena arahnya agak nyenggol pasangan capres/cawapres lain maka Tidak heran jika pasangan capres/cawapres yang lain memprotes pernyataan SBY tersebut. Bahkan pernyataan SBY dianggap semakin memperkeruh suasana.
Saya sendiri lumayan sedih tetapi juga lumayan maklum melihat kelakukan “kekanak-kanakan“ para pemimpin kita - yang lebih memilih berkelahi bahkan pada saat negeri ini dalam situasi yang tidak kondusif seperti ini. Tetapi saya masih berbaik sangka , bahwa tingkah laku “penuh semangat” itu dilakukan karena kecintaan mereka pada negeri ini dengan cara mereka masing-masing.

Mengatasi aksi terorisme memang tidak mudah. Oh iya - Saya tidak urusan pelakunya siapa, mau Islam, Kristen, Budha, Hindu, Khonghucu atau ateis – kalo memang teroris yang sebut saja itu sebagai teroris. Apakah pelakunya mau jambulnya merah atau ungu, apakah dia suka makan bakso atau suka makan tahu gimbal, orangnya gundul atau gonderong itu tidak penting. Yang jelas pelakunya itu teroris titik.

Mengapa disebut teroris ? Karena mengakibatkan kengerian kepada masyarakat banyak, berdampak luas termasuk berdampak pada manusia-manusia yang sebenarnya tidak punya kaitan langsung dengan pihak-pihak yang ingin mereka serang, menyerang warga sipil dan sebagainya. Jadi pelaku bom itu jelas teroris, serangan Amerika ke Irak secara semena-mena juga aksi terorisme , penyerbuan Israel ke Jalur Gaza kemarin-kemarin yang menghujani rakyat sipil Palestina dengan rudal – itu juga aksi terorisme luar biasa. Hanya saja ada aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok masyarakat, ada aksi terorisme yang justru pelakunya adalah Negara. Dampaknya ada yang sedang, ada yang lumayan besar ada juga yang sangat besar. Tetapi intinya , secara substansial : yang namanya teroris ya teroris tidak perduli siapapun pelakunya.

Mengapa mengatasi terorisme selalu tidak mudah ? Karena kompeksitasnya yang sangat besar. Terorisme yang dilakukan pihak yang berkuasa biasanya terkait dengan keinginan memperluas kekuasaan, nafsu ekonomi dsb. Sedangkan Terorisme yang dilakukan oleh warga masyarakat biasanya terkait dengan perasaan diperlakukan tidak adil. Selama ada seseorang yang merasa diperlakukan tidak adil, atau lebih luas lagi selama ada seseorang yang merasa manusia termasuk manusia-manusia lain diperlakukan tidak adil – maka terorisme akan selalu ada. Jadi sedikit banyak aksi terorisme memang terkait dengan persepsi pelakunya terhadap ketidakadilan yang dideritanya maupun yang diderita oleh rekan-rekannya. Perasaan semacam itu bercampur baur dengan keyakinan ideologis termasuk agama, ada pembenaran sepihak – kemudian kebetulan ada situasi yang mendukung, ada pemicunya kemudian endingnya : BUUUUMMM , terjadilah aksi. Karena aksi terorisme cenderung terkait dengan persepsi seseorang akan ketidakadilan, maka rasanya mustahil menghapus terorisme sama sekali, apalagi ketidakadilan itu sifatnya sangat luas, termasuk persepsi ketidakadilan global.

Sebagai contoh : Anggap saja di RT 3 RW 5 kelurahan Gundul Gundul Pacul relatif baik kondisinya , relatif adil dan sebagainya , tetapi bisa saja ada seseorang idealis yang melihat adanya ketidakadilan luar biasa di RT3 RW 7 kelurahan Topeng Monyet. Dalam tahap awal dia mungkin sedih , prihatin, dan melalui proses tertentu yang tidak sebentar, dia bisa jadi “terketuk ingin membantu” bagaimanapun caranya - termasuk sisi jeleknya : membantu dengan cara-cara yang tidak konvensional. Seorang Teroris bisa saja terkait dengan kebodohan, pendidikan yang jelek, kemiskinan dan sebagainya. Tetapi kalau dilihat dari sisi pelakunya tidak selalu demikian. Intinya ada sisi idealisme yang berlebihan , ada justifikasi, ada pembenar - baik dari sisi ideologi atau agama termasuk dalam memakai segala cara dalam mencapai tujuan, ada proses tertentu yang berjalan kemudian ada pemicu, maka Jadilah apa yang seharusnya tidak terjadi.

Kalau kita bicara idealisme para teroris, maka idealisme mengenai ketidakadilan itu sendiri terbagi dua :
Teroris tipe pertama : Karena merasa ada ketidakadilan, maka tujuannya adalah bagaimana melakukan sesuatu yang menurut mereka bisa mewujudkan keadilan, memakai cara apa saja bahkan diperbolehkan memakai cara ekstrim sekalipun.
Sedangkan Teroris tipe kedua pemikirannya lebih gaswat lagi : Karena merasa ada perlakuan tidak adil, maka agar adil karena keadilan sejati tidak bakal pernah dicapai – bagaimana caranya supaya ketidakadilan itu juga bisa dirasakan oleh manusia-manusia lain, yang selama ini dalam persepsinya telah diuntungkan atau setidaknya tidak berempati terhadap ketidakadilan demi ketidakadilan yang terjadi. “Ketidakadilan Telah terjadi, maka agar ada keadilan - kita sebarkan ketidakadilan secara merata. “

Bila teroris pertama beranggapan : Jika ada ketidakadilan , bagaimana supaya timbul keadilan, terlepas bagaimanapun caranya. Teroris kedua beranggapan : Karena saya/rekan saya/kaum saya telah diperlakukan tidak adil, mengapa saya harus berlaku adil kepada pihak-pihak lain. Karena kami telah diperlakukan tidak adil, maka kami juga tidak merasa perlu berlaku adil kepada siapapun. Jika saya/kaum saya merasa sakit, maka lebih baik jika orang lain juga merasakan bagaimana rasanya sakit.

Jika dalam persepsi saya : A = 5 dan B = 100, maka agar ada keseimbangan antara A dan B, ada beberapa kemungkinan yang mungkin saya lakukan. Yang pertama adalah membuat A dari 5 jadi 100, terlepas bagaimanapun caranya. Atau sebaliknya karena rasanya tidak mungkin/lebih sulit mengubah 5 jadi 100 , maka lebih masuk akal jika kita upayakan B = 100 menjadi B = 5 atau setidaknya kita kurangi, agar B bisa merasakan bagaimana tidak enaknya A = 5. Bisa saja kedua pemikiran itu dikombinasikan A ditingkatkan, B dikurangi dan sejenisnya.

Atau bisa saja pemikirannya malah lebih ekstrim lagi : karena A = 5 tidak dibantu, tidak ada empati dan sebagai - bagaimana caranya agar B, C, D, E, F serta lainnya kita buat juga = 5 , kita gangguin saja agar bisa merasakan bagaimana rasanya A= 5. Jika A nggak enak, mengapa yang lain boleh enak? Jika rakyat Kelurahan Baju Kembang-kembang menderita luar biasa, mengapa rakyat di tempat lain tidak boleh menderita? Lebih-lebih untuk mereka yang selama ini terkesan hidup bermewah-mewah dan terkesan tidak perduli dengan kesengsaraan rakyat Kelurahan Baju Kembang, mereka harus ikut merasakan bagaimana rasanya penderitaan Baju Kembang.

“Kamu memang mungkin memang bukan penyebab penderitaan kami, tetapi karena kamu senang dan kami susah, kamu menikmati kesenangan tanpa perduli kesusahan kami - lalu mengapa kami harus perduli terhadap kesusahan kamu. Jika kami tidak mungkin menghilangkan kesusahan kami, mungkin lebih baik jika kamu kami buat sama susahnya dengan kami“

Selain masalah teknis : Karena Banyak Warga Asing tinggal di situ - mungkin karena alasan psikologis inilah yang membuat hotel mewah, dan tempat-tempat diskotik menjadi target serangan. Karena tempat-tempat semacam itu dipandang sebagai tempat simbol kemewahan yang tidak sinkron dengan penderitaan manusia.
Kami menderita kok kalian malah bersenang-senang, awas akan kami buat kalian merasakan menderita - agar kalian bisa merasakan bagaimana rasanya manusia-manusia yang menderita.

Karena persepsi semacam itu tentu saja tidak mudah dihilangkan - maka akar terorisme bagaimanapun pasti akan selalu ada. Pemberantasan terorisme yang terlalu lunak, mungkin akan menyuburkan terorisme, karena memberikan ruang gerak. Tetapi pada sisi lain, pemberantasan terorisme yang terlalu keras dan berlebihan, sangat mungkin menimbulkan perasaan ketidakadilan baru yang berpotensi menjadi bibit-bibit teroris baru di masa depan. Terorisme menghasilkan kontraterorisme, kontra terorisme yang berlebihan menghasilkan terorisme yang lebih besar lagi sehingga menimbulkan lingkaran setan.

Yang ideal tampaknya upaya yang proporsional, terukur, terkontrol dan sedang-sedang saja. Tetapi memang merumuskan definisi sedang dan proporsional itu sendiri juga tentu tidak mudah. Ditambah lagi upaya mewujudkan keadilan secara lokal dan keadilan global sama sekali tidak mudah karena terkait dengan hasrat kekuasaan dan ekonomi masing-masing Negara dan masing-masing manusia. Tetapi bagaimanapun upaya mengatasi terorisme termasuk mengatasi ketidakadilan sistemis dan global yang menjadi akar terorisme rasanya cukup berharga untuk dikampanyekan bersama.

Karena ketidakadilan bagaimanapun juga pasti selalu terkait dengan persepsi seseorang yang pasti tidak mungkin sama, ada juga masalah justifikasi terhadap perbuatan yang merugikan pihak lain - maka upaya komunikasi yang terus menerus, dialog berkelanjutan juga perlu diupayakan, serta upaya pencerahan juga perlu dilakukan oleh pemuka masing-masing agama dan juga tokoh masyarakat.


SALAM

Rabu, 2009 Juli 15

Ateis menjawab Gambit Pascal (Pascal's Wager)

Tulisan ini adalah sebagian dari rangkaian tulisan dari draft naskah Ateis UnderKlepon.
Beberapa bulan yang lalu saya sempat surat-suratan dengan DaengFatah , saya mungkin akan membalas artikel2nya dengan sebuah buku, biar para ateis nggak terlalu GR hik hik hik. Judulnya Ateis Under Klepon : Menjawab Ateis Indonesia. Dia cuma senyam senyum kayaknya sih kan lewat surat. Dia bilang ya ya ya, buat saja.

Karena kesibukan buku itu nggak selesai2, sekarang ini sih sekitar 80%, apalagi saya sempat ke luar kota beberapa bulan. Saya nggak tahu apakah ada penerbit yang berminat atau nggak terhadap buku antik model beginian . Hi hi hi.
Oke, inilah persembaran dari lovepassword :

Ateis UnderKlepon Begin : Ateis Menjawab Gambit Pascal

==========================================

Gambit Pascal atau Pertaruhan Pascal atau Pascal’s Wager adalah salah satu di antara argumentasi klasik teis ketika berdiskusi dengan ateis. Karena sifatnya yang klasik, argumen ini tentu juga sudah dipelajari sebaik-baiknya oleh para pemikir dari pihak ateis.

Isi dari pertaruhan atau pemilihan Pascal kurang lebih seperti ini :

Tuhan bila dilihat dari sisi manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan keberadaan/ketidakberadaanNya. Karena sifat Tuhan adalah tidak terhingga. Sedangkan manusia itu sendiri dipenuhi keterbatasan.

Walaupun Tuhan itu sendiri tidak bisa dibuktikan, manusia harus memilih dalam ketidakpastiannya apakah percaya Tuhan ada atau tidak. Dalam posisi seperti ini maka Pascal sebagai seorang pakar probabilitas menyarankan seperti ini : Posisi yang paling ideal bagi manusia adalah jika mereka percaya bahwa Tuhan ada.

Alasannya : Jika Tuhan ternyata tidak ada, dan tidak ada penghakiman kelak, maka pada dasarnya tidak ada kerugian apapun bagi pihak yang percaya Tuhan. Pihak yang tidak percaya Tuhan maupun pihak yang percaya Tuhan berada pada posisi yang sama yaitu tidak mengalami kerugian/keuntungan apapun.

Sementara di sisi lain, jika ternyata Tuhan itu benar ada, maka pihak yang mempercayai Tuhan akan mendapatkan berkat/surga sedangkan pihak yang tidak percaya Tuhan akan mengalami kerugian karena mendapatkan rohani kematian/neraka . Karena itu - posisi yang ideal yang seharusnya dimiliki manusia adalah mempercayai Tuhan.

GAMBIT PASCAL
Beriman -
Jika Tuhan Ada - Untung
Jika Tuhan Tidak ada - Tidak Rugi

Tidak Beriman -
Jika Tuhan Ada - Rugi
Jika Tuhan Tidak Ada - Tidak Untung


Seperti yang sudah saya katakan di depan, Gambit Pascal adalah argumentasi klasik sehingga pasti juga sudah dipelajari oleh para ateis.

Berikut ini beberapa argumentasi dari pihak ateis dalam menghadapi gambit Pascal :

Probabilitas setiap kemenangan dalam gambit Pascal sebenarnya sangat kecil. Teis hanya melihat bahwa Tuhan itu ada atau Tuhan itu tidak ada. Sekarang tarohlah bahwa Tuhan benar ada, anda harus melihat lagi probabalitasnya apakah Tuhan yang anda percayai adalah Tuhan yang benar.

Daeng Fatah seorang rekan ateis, dalam sebuah postingan di blognya secara “gigih” berhasil mengumpulkan lebih dari 348.001.600 figur atau nama yang dipercayai manusia sebagai Tuhan. Berikut ini beberapa nama yang dipercayai sebagai Tuhan oleh manusia :

1.Aah = tuhan bulan Mesir
2.Abassi = Tuhan Efik (Nigeria)
3.Abgal = Tuhan kebijaksanaan mesopotamia
4.Abuk = Tuhan Dinka (Sudan)
5.Abandinus = tuhan Celtic
6.Abangui = Tuhan Guarani
7.Acan = Tuhan anggur Maya
8.Acantuns = Tuhan maya
9.Acat = Tuhan Tattoo Maya
10.Achelois = Tuhan bulan yunani
11.Achelous = Tuhan sungai yunani , dan masih banyak lagi.
(dari : Ateisme untuk Kemanusiaan – Lebih dari 348.001.600 Tuhan).

Logika ateis : karena Tuhan itu sendiri ada sedemikian banyaknya, lebih dari 340 juta nama Tuhan yang dipercayai manusia Maka andaikata Tuhan itu benar ada, maka probabilitas teis untuk masuk surga/tidak dihukum juga sangat-sangat kecil yaitu cuma 1/340 juta. Karena kemungkinan manusia menyembah Tuhan yang benar hanya 1/340 jutaan.
Argumentasi yang lain : Jika logikanya adalah sekedar bermain aman, maka semestinya umat beragama menyembah Tuhan yang memberikan hukuman yang paling kejam, sekaligus yang memberikan hadiah yang paling banyak. Karena itu lebih menguntungkan. Faktanya Tidak mungkin seseorang mau diajak pindah agama hanya atas dasar ini. Orang yang beragama X tidak mungkin pindah ke agama Y hanya karena alasan Tuhan agama Y lebih kejam.

Jika Tuhan itu sungguh ada, maka justru sangat mungkin Tuhan memberikan penghargaan kepada ateis yang secara serius dan jujur berusaha mencari kebenaran sejati meskipun mungkin tidak mendapatkannya - ketimbang orang-orang yang secara munafik merasa sudah tahu apa itu kebenaran padahal mereka sebenarnya tidak perduli tentang benar dan salah. Kecuali jika Tuhan ingin agar surga diisi oleh orang-orang yang malas berpikir atau orang-orang yang sekedar senang bermain aman dalam berjudi atau senang berhitung untung rugi dengan Tuhan.

Jika Tuhan itu sungguh tidak ada, bukan berarti teis tidak dirugikan sama sekali karena berarti mereka telah membuang-buang waktu dan biaya yang tidak berguna untuk kegiatan-kegiatan ibadah mereka : Beribadah di rumah, beribadah di mesjid, beribadah di gereja, berperang atas nama Tuhan, membuang uang untuk keperluan ibadah dan sebagainya. Sementara di sisi lain, waktu dan sumberdaya tersebut bisa dialokasikan untuk hal lain yang berguna. Jika Tuhan sungguh tidak ada, maka secara logika perbuatan-perbuatan seperti itu sangat tidak berguna dan patut disesalkan.

Adalah ironi bila agama yang secara umum katanya melarang perjudian, meletakkan dasar keimanannya pada perjudian model kanak-kanak yang hanya didasarkan atas motivasi keserakahan semata. Bahkan tanpa menikmati prosesnya.

Bagaimana kita menghadapi ini ?

Ide dasar dari Gambit Pascal sebenarnya sederhana, Memiliki Tuhan adalah kebutuhan manusia. Jika manusia tidak memiliki Tuhan maka manusia cenderung akan rugi.

Sisi yang agak kurang enak dalam teori ini, adalah : timbul kesan bahwa konsep agama itu sangat materialistis karena pertimbangannya semata-mata probabilitas untung dan rugi. Karena itu tidak semua pemeluk agama juga sependapat atau setidaknya merasa nyaman memakai argumentasi Pascal ini.

Dalam banyak agama - ada beberapa perbedaan pendapat . Ada yang menganggap bahwa berharap pahala itu baik, ada juga yang walaupun senang dapat pahala – tetapi merasa agak tidak nyaman bila ada pemikiran ibadah itu didasarkan semata-mata atas hitung-hitungan dengan Tuhan. Istilahnya : Terkesan berbisnis atau berdagang dengan Tuhan. Karena itulah ada juga pemeluk agama yang memilih tidak memakai argumentasi ini ketika berdiskusi dengan ateis, karena mereka berprinsip dasar ibadah itu keikhlasan.

Meskipun demikian, bagi penganut argumentasi ini, kekokohan argumentasi Gambit Pascal juga tidak bisa mudah disingkirkan begitu saja – termasuk oleh serangkaian bantahan dari ateis.

Berikut ini bantahan balik untuk para ateis terkait dengan Gambit Pascal :

1.Ateis berkata Probabilitas Kemenangan dalam Gambit Pascal sebenarnya sangat kecil. Jawaban satu : Kalaupun agama itu banyak, bagaimanapun secara probabalitas - umat beragama lebih untung daripada ateis karena kans ateis adalah nol. Jawaban dua : Banyaknya agama justru menunjukkan bahwa kerinduan akan Tuhan adalah fitrah dasar bagi semua umat manusia. Terlepas dari adanya perbedaan, ateis harus melihat juga bahwa ada pola kerinduan yang sama dari penganut agama terhadap Penciptanya. Ini justru menunjukkan kalau Tuhan itu ada. Sampai sejauh ini, tidak ada argumentasi yang cukup memadai dari para ateis, darimanakah asal muasal konsep Tuhan. Konsep Tuhan jelas bukan konsep yang terkait dengan peniruan yang bisa ditiru manusia dari pengalaman lahirnya.

2.Kalau kita melihat ini dari sudut pandang probabilitas, maka sebenarnya tidak tepat jika dikaitkan dengan Tuhan yang kejam atau tidak kejam, Tuhannya agama X, agama Y, dan sebagainya. Karena probabilitas di sini kaitannya dengan peluang kemenangan – tidak terkait dengan besar/kecilnya hadiah. Beragama memang tidak bisa dilihat semata-mata dari besar kecilnya kemungkinan pahala dan hukuman - karena terkait dengan perasaan individual. Seseorang yang merasa kemungkinan menang di satu topik besar – lebih masuk akal memilih itu – ketimbang memilih hal lain yang memberikan kemungkinan hadiah lebih besar – tetapi kemungkinan mendapatkan hadiah lebih kecil. Tetapi sekali lagi pemilihan itu terkait dengan perasaan individual.

3.Masalah penghargaan dari Tuhan – itu hak mutlak Tuhan sepenuhnya. Konsep untung rugi di sini dilihat dari ajaran yang ada dalam agama. Agama mengajarkan jika A maka B. Sebagai umat yang beriman maka kaum teis meyakini itu sehingga ada perasaan rugi ketika tidak berTuhan. Merasa untung jika memiliki Tuhan. Masalah lain yang terkait dengan usaha pencarian kebenaran sepenuhnya urusan anda pribadi dengan Tuhan.

4. Hal lain yang juga harus dilihat : Tidak ada argumentasi yang cukup memadai dari anggapan ateis bahwa manusia yang mempercayai Tuhan adalah identik dengan manusia yang malas berpikir. Konstribusi penganut agama dalam perkembangan ilmu pengetahuan serta secara umum peradaban manusia – tentu juga tidak bisa diabaikan.

5.Besar kerugian umat yang beriman bila memang asumsi meleset sebenarnya sangat-sangat kecil. Jelas tidak bisa dibandingkan dengan kerugian ateis yang berpotensi mendapat hukuman abadi. Tarohlah jika ibadah itu dianggap sebagai hobby atau pelampiasan kebutuhan kejiwaan semata-mata. Baik teis maupun ateis punya kans yang sama untuk menghabiskan waktu untuk hal-hal seperti ini. Artinya ditinjau dari sisi manapun kerugian ateis lebih besar. Pendapat bahwa jika Tuhan tidak ada maka perbuatan-perbuatan ibadah patut disesalkan adalah pendapat yang tidak logis. Karena Pertama : Selama manusia masih hidup maka manusia tidak akan bisa membuktikan Tuhan ada atau tidak. Kedua : Kalaupun anggap saja pendapat ateis benar bahwa Tuhan itu memang tidak ada, dan tidak ada penghakiman setelah mati. Apa yang bisa disesali oleh orang mati, jika tidak ada penghakiman setelah mati. Bila Tuhan tidak ada - Baik masih hidup atau sudah mati – teis tidak akan menyesal karena orang mati tidak akan bisa menyesal bila penghakiman itu tidak ada. Di sisi lain bila Tuhan itu sungguh ada - maka jelas justru ateis–lah yang akan menyesal.

6.Ide dasar dari Gambit Pascal tidak dimaksudkan supaya manusia semata-mata berorientasi pada materi atau hadiah semata tanpa menikmati atau bahkan mengkhianati proses : Menipu Tuhan yang Maha Tahu dan sejenisnya. Tetapi Pascal menganggap bahwa suatu proses bisa berjalan melalui pembelajaran dan pembiasaan. Analogi gampangnya begini : Kesadaran untuk membuang sampah pada tempat seharusnya itu baik. Tetapi pada tahap awal pada lingkungan masyarakat yang tidak terbiasa melakukan itu perlu ada reward and punishment. Lambat laun masyarakat akan terbiasa1.membuang sampah di tempat yang seharusnya. Dan mereka melakukannya dengan kesadarannya sendiri.

SALAM